Oleh: Yanto Budiman Situmeang
Tahun tidak pernah benar-benar pergi dengan suara keras. Ia tidak mengetuk pintu, tidak berpamitan secara resmi. Ia hanya perlahan memudar, meninggalkan jejak-jejaknya di ingatan kita—tentang hari-hari yang pernah terasa begitu panjang, dan malam-malam yang datang terlalu cepat.
Begitulah 2025 berdiri di hadapan kita sekarang: sebagai kumpulan cerita, luka kecil, tawa singkat, kegagalan yang mengajarkan, dan keberanian yang tumbuh diam-diam.
2025 adalah tahun yang tidak selalu ramah. Ada hari-hari ketika rencana runtuh sebelum sempat diwujudkan, ketika harapan harus direvisi berkali-kali agar tetap bisa bertahan. Banyak dari kita belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai jadwal, dan tidak semua usaha langsung berbuah hasil.
Ada perpisahan yang tak terelakkan, perubahan yang dipaksakan, dan keputusan berat yang harus diambil meski hati belum sepenuhnya siap.
Namun di balik semua itu, 2025 juga adalah tahun bertahan. Tahun ketika banyak orang tetap melangkah meski lelah, tetap tersenyum meski beban terasa berat. Kita belajar bahwa kuat bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan mau bangkit meski jatuhnya berkali-kali.
Kita belajar memaafkan—diri sendiri maupun keadaan—dan menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus segera menemukan jawaban.
Pergantian tahun selalu membawa jeda. Sebuah napas panjang di antara “yang telah terjadi” dan “yang belum kita tahu”. Saat hitungan mundur menuju detik pertama 2026, kita tidak hanya meninggalkan angka, tetapi juga membawa semua pelajaran yang diam-diam membentuk kita sepanjang 2025.
Luka yang sembuh, luka yang masih terasa, dan harapan yang meski redup, belum pernah benar-benar padam.
Tahun 2026 datang bukan sebagai janji kosong bahwa segalanya akan mudah. Ia datang sebagai kesempatan baru—untuk mencoba lagi, untuk melangkah dengan versi diri yang sedikit lebih bijak.
Harapan di 2026 mungkin tidak lagi sebesar dulu, tetapi lebih jujur. Kita tidak lagi meminta hidup yang sempurna, melainkan hati yang lebih kuat, pikiran yang lebih tenang, dan langkah yang lebih berani.
Di 2026, kita berharap bisa lebih menghargai proses, sekecil apa pun kemajuannya. Berharap bisa lebih mendengarkan diri sendiri, lebih peduli pada sekitar, dan tidak terlalu keras saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Kita berharap diberi cukup waktu untuk tumbuh, cukup cahaya untuk melihat arah, dan cukup sabar untuk menunggu hasil.
Pergantian tahun bukan tentang melupakan masa lalu, melainkan berdamai dengannya. 2025 telah melakukan tugasnya: mengajarkan, menguji, dan membentuk.
Kini saatnya 2026 melanjutkan cerita—dengan lembaran baru yang masih kosong, menunggu untuk diisi oleh keberanian, doa, dan usaha kita sendiri.
Selamat tinggal 2025. Terima kasih atas semua pelajaran, meski tidak semuanya terasa mudah. Selamat datang 2026. Datanglah dengan harapan baru, dan izinkan kami melangkah dengan hati yang lebih siap.
Penulis: Wartawan senior/Ketua Pro Jurnalismedia Siber ( PJS) Riau


