Kampar, berazamcom – Siapa sangka, di lahan seluas sekitar empat hektare di wilayah Kampar, tumbuh ratusan pohon durian muda yang mulai menunjukkan keajaibannya. Kebun durian milik Afrizal Naaf, anggota DPRD Kampar, kini menjadi perhatian banyak pecinta durian, terutama jenis duri hitam yang dikenal sebagai durian premium dengan harga fantastis, mencapai Rp300 ribu per kilogram.
Kunjungan Berazam.com ke kebun tersebut dilakukan atas undangan Abu Bakar, seorang penggiat durian yang sedang melakukan perbanyakan bibit dengan teknik sambung susu. Di antara barisan pohon durian yang rapi, kami disambut pemandangan menakjubkan: pohon-pohon durian berusia baru empat setengah tahun, namun sudah berbuah lebat—buahnya menjuntai rendah hingga nyaris menyentuh tanah.
Kebun ini berjarak sekitar tiga kilometer dari jalan nasional Bangkinang–Pekanbaru, tepatnya di kawasan Simpang Danau Bokuok. Meski pohon belum besar, produktivitasnya sangat mengesankan. “Kalau satu pohon bisa menghasilkan seratus kilo, bayangkan potensi penghasilannya,” ujar Afrizal Naaf penuh semangat.

Selain terpesona oleh hasil buah durian duri hitam yang melimpah, kami juga menyaksikan langsung keahlian Abu Bakar dalam memperbanyak bibit durian unggul melalui teknik sambung susu. Dengan sabar ia menyiapkan seedling (batang bawah) dari biji durian lokal, lalu menyambungkannya dengan dahan durian unggul seperti Ochee atau Duri Hitam.
“Kalau dahan duri hitamnya rendah, malah makin mudah. Sambil duduk pun bisa sambung,” ujar Abu Bakar sambil tersenyum.
Melihat hasil nyata di kebun ini, rasanya tak berlebihan bila durian duri hitam disebut sebagai “emas hijau” dari Kampar. Bukan hanya menjanjikan keuntungan besar, tetapi juga menjadi bukti bahwa dengan teknik budidaya yang tepat, petani lokal bisa menghasilkan produk premium berkelas dunia.
Kini, harapan pun tumbuh: semoga semakin banyak masyarakat Kampar yang terinspirasi untuk menanam durian unggul seperti duri hitam—buah kebanggaan negeri yang bisa membawa kesejahteraan bagi petaninya. *ziz


