Pekanbaru, berazamcom-- Beberapa waktu lalu dua lembaga di Kota Pekanbaru mengundang Lima (5) Pasangan Calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru untuk menguji program serta kepedulian calon jika terpilih jadi pemimpin kedepan.
Adapun dua lembaga tersebut, yaitu dari dunia pendidikan Universitas Lancang Kuning (Unilak) serta Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau.
Dari Universitas Lancang Kuning (Unilak) pengujian program dan kepedulian Calon dilakukan oleh mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kajian Ilmiah dan Kewirausahaan (KIK) terkait pertanian di Kota Pekanbaru yang belum maksimal. Sehingga dibutuhkan gagasan dan komitmen calon pemimpin untuk mencapai kesejahteraan di bidang pertanian. Terutama dalam pengembangan pertanian modern sesuai teknologi modern saat ini yang bisa menggunakan aplikasi smartphone, dan lain-lain.
Hanya saja kegiatan yang digelar melalui seminar pertanian modern bertajuk Pemberdayaan Petani Muda Inovasi dan Kreativitas untuk Masa Depan Pertanian ini, tidak semua dihadiri calon pemimpin kota Pekanbaru tanpa alasan jelas. Dimana yang hadir hanya satu Paslon yaitu Paslon Nomor Urut 4 Edy Nasution-Bibra yang programnya cukup meberikan wawasan, ilmu serta inovasi yang bisa dikembangkan mahasiswa kedepan.
Artinya, kegiatan mahasiswa ini juga mendukakan tanggungjawab pemimpin dalam meningkatkan kualitas pendidikan mahasiswa dibidang pertanian. Sehingga, tidak dipungkiri ketidak hadiran beberapa calon tersebut tidak hanya menimbulkan kekecewaan bagi dunia kampus tapi juga menjadi penilaian jika dari 5 Paslon pemimpin Kota Pekanbaru hanya satu yang terbukti peduli pendidikan di kampus. Yaitu Paslon Edy Nasution-Bibra.
Karena itu, para mahasiswa dan pelaksana kegiatan ini, mengapresiasi Paslon Edi Nasution-Bibra. Tambah lagi program yang disampaikan, program yang sebelumnya telah dilakukan dan dibuktikan. Sehingga sangat berdampak baik dan meberikan ilmu bagi para mahasiswa untuk jadi panutan dan dikembangkan.
Menurut Ketua Umum UKM KIK Ridho Putra Juliansya, kegiatan yang ditaja ini adalah langkah mahasiswa menguji program para calon pemimpin jika terpilih kedepan. Terutama terkait pertanian modern yang bisa jadi UMKM sesuai perkembangan teknologi penggunaan sistem sistem drip tetes, penggunaan aplikasi di smartphone dan lainya yang seharusnya gagas itu dimiliki para calon pemimpin jika terpilih kedepan.
Kegiatan ini juga penting untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas pendidikan mahasiswa. Namun, yang hadir hanya satu Paslon meski sebelumnya sudah komunikasi dan dikonfirmasi hingga hari H pelaksanaan tanpa ada alasan pasti.
“Kita mengapresiasi Paslon Edy Nasution-Bibra yang programnya juga cukup bagus dan dibuktikan. Ini sangat berdampak pada wawasan dan ilmu bagi para mahasiswa terkait pemgembangan pertanian modern,” katanya.
Ia juga menjelaskan, jika sektor pertanian saat ini kurang diminati sebagian besar para generasi zaman sekarang, karena pekerjaannya harus kotor dan panas. Maka itu, mahasiswa mengembangkan program mengikuti perkembangan zaman dan teknologi modern dengan stigma tidak semua bertani harus kotor-kotor dan panas tapi sudah ada cara modern dengan mengadopsi teknologi modern.
“Inilah tujuan seminar ini dengan para calon pemimpin agar bisa meberikan masukan memperkuat peran petani muda, mendorong generasi muda untuk lebih aktif dalam melihat sektor pertanian sebagai sektor yang menjanjikan dan lainya.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Paslon Edy Nasution-Bibra yang terbukti peduli pendidikan kampus, menambah ilmu pengetahuan mahasiswa dengan program pertanian yang telah dilaksanakan sebelumnya,” jelasnya.
Sementara Wakil Rektor III Dr Hardi, sesuai rilis yang dipublikasikan melalui webside Unilak.ac.id menyampaikan, jika kegiatan tersebut sebagai bentuk pendidikan terhadap mahasiswa melaksanakan kegiatan-kegiatan tidak hanya secara akademik, tetapi juga melalui kegiatan seminar yang bisa menambah wawasan.
Kegiatan tersebut juga merupakan upaya strategis untuk memastikan keberlangsungan dan kemajuan sektor pertanian di Indonesia dengan melibatkan generasi muda.
Pemberdayaan petani muda merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan pertanian Indonesia. “Dengan dukungan yang tepat, khususnya dari pemimpin petani muda dapat menjadi ujung tombak dalam mewujudkan pertanian yang modern, efisien, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Sementara dari Lembaga Adat Melayu (LAMR) pengujian dilakukan oleh
Penggawa Melayu Riau (PMR) selaku organisasi yang bertujuan untuk menjaga marwah Melayu Riau dan anak-anak Riau. Dimana pengujiannya dilakukan lebih pada kepedulian calon pemimpin terhadap Kemelayuan yang wajib menjadi perhatian utama bagi calon sebagai pemimpin di negeri Melayu. Baik secara etika, adab, menghormati, menghargai dan menjadi contoh para generasi sesuai tunjuk ajar Melayu.
Penggawa Melayu Riau mengaku, kecewa dengan 4 Paslon pemimpin Kota Pekanbaru, terutama dalam menghargai anak-anak melayu. Seperti yang disampaikan Sekretaris Penggawa Melayu Riau, Dt Doni Riau jika dari 5 Paslon pemimpin kota Pekanbaru hanya satu yang betul-berul terbukti menghargai dan peduli terhadap anak-anak melayu maupun nilai budaya melayu. Yaitu, Paslon Edy Nasution-Bibra.
“Kami beberapa waktu lalu mencoba untuk mengundang seluruh Paslon dalam rangka ulang tahun ke-3 Penggawa Melayu Riau. Namun yang datang hanya Paslon Edy Nasution-Bubra. Artinya, yang terbukti peduli kami itu hanya Paslon Edy Nasution-Bibra,” katanya.
Dalam kegiatan ini katanya, Penggawa Melayu Riau tidak minta uang, tapi hanya menguji calon pemimpin terhadap anak-anak melayu. Ternyata benar tidak semua calon pemimpin peduli dan hanya cerita belaka.
“Kalau untuk Paslon Edy Nasution-Bibra kami tidak meragukan lagi, kepedulian beliau terhadap anak melayu bukan hanya saat ini. Tapi semenjak menjabat Danrem, Wakil Gubernur hingga jadi Gubernur Riau sebelumnya yang selalu hadir dan peduli terhadap anak-anak melayu dalam kegiatan apapun,” katanya.
Dt Doni juga mengatakan, sebagai negeri Melayu para calon pemimpin harus jadi tauladan bagi generasi. Artinya, tidak menujukan ego tapi mengedepankan serumpun, selaras mengedepankan adab yang merupakan inti dari adat istiadat Melayu.
“Jadi sekali lagi kami menegaskan, kami anak-anak Melayu Pekanbaru hanya peduli pada Paslon Edy Nasution-Bibra untuk apa kami peduli yang lain sementara kami saja tidak dihargai,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengatakan jika sosok Paslon Edy Nasution Bibra Paslon berpengalaman, agamis, bersih, tegas dan konsisten. Terutama dalam janji yang selalu menepati hadir tepat waktu bahkan sebelum waktu acara sudah hadir.
“Pak Edy ini gayanya seperti orang Singapura, kebetulan saya juga bekerja di Singapura. Kalau orang Singapura untuk kegiatan ini hadir setengah jam sebelum acara. Jika acara jam sebelas, mereka hadir jam setengah sebelas.
Ini munkin sudah menjadi kebiasaan beliau yang juga dari TNI yang dikenal disiplin. Kita yakin juga dengan disiplin ini beliau sudah pasti akan disiplin juga dalam menjalankan amanah, dan kita juga sudah melihat dari beliau menjabat Wakil hingga Gubernur Riau sebelumnya,” tutupnya.(*)


