Minggu, 23 Juni 2024

Breaking News

  • Pertama di Riau, FK Universitas Abdurrab dan KREKI Riau Gelar Seminar dan Workshop Penanganan Kegawatdaruratan   ●   
  • Dinamika Persaingan Calon Gubernur Riau: Antara Spekulasi dan Persaingan Kekuatan Politik   ●   
  • Cegah Jadi Korban Hoaks, KPI Daerah Riau Gelar Literasi Media bagi 100 Mahasiswa di Pekanbaru   ●   
  • Aceh Butuh Kembalikan Kewenangan di Bidang Minerba dan Kemudahan Izin WPR Bukan PP Minerba   ●   
  • Kontroversi Kehadiran Bakal Calon Gubernur Riau di LAMR, Fauzi Kadir: Datang Belum Tentu Dipilih!   ●   
OPINI
Manajemen Satuan Pendidikan: Pilar Utama dalam Mengimplementasikan Merdeka Belajar
Jumat 07 Juni 2024, 17:57 WIB

Faktor utama dalam meningkatkan suatu negara adalah memiliki Sumber Daya  Manusia (SDM) yang mumpunin dan bisa bersaing, maka dari itu perlunya suatu wadah untuk mengembangkan hal ini, wadah yang dimaksud adalah suatu pendidikan. Pendidikan  memiliki  andil  besar  dalam  mempersiapkan  dan  mengembangkan  Sumber  Daya  Manusia (SDM)  yang  terampil  dan  mampu  bersaing  dalam  tataran  global. Menurut UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha terencana dan sadar untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan untuk diri mereka sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan  tidak  dapat  dilaksanakan  tanpa  adanya kurikulum.  Kurikulum  menjadi  bagian  integral  dari  proses pendidikan (Insani,  2019). Sederhananya,  kurikulum  menjadi  pedoman  dalam  pelaksanaan  pendidikan. Begitu  pentingnya  kurikulum  dalam  bidang  pendidikan  karena  menjadi  alat,  rujukan,  dasar  atau pandangan  hidup dalam mencerdaskan anak bangsa, maka menjadi hal yang umum bila terjadi pengembangan pada kurikulum tersebut.

Saat ini sistem pendidikan di Indonesia menggunakan Kurikulum Merdeka. Kurikulum merdeka mengacu pada filosofi kemerdekaan yang diwujudkan dalam kurikulum yang memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi siswa dan guru (Indarta et al., 2022). Konsep dasar dan manajemen ruang lingkup pendidikan dalam Kurikulum Merdeka merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih fleksibel, relevan, dan berpusat pada peserta didik (Abdul Fattah Nasution et al., 2023). Dalam penerapannya, kurikulum merdeka ini membutuhkan dukungan dan bantuan dari berbagai stakeholder.

Kegiatan Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum Merdeka di MI Ar-razzaq

 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ar-razzaq, salah satu sekolah dasar swasta yang ada di kecamatan Rumbai, kota Pekanbaru, provinsi Riau ini merupakan sekolah islam yang sudah mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. MI Ar-razzaq sudah mulai melakukan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan penerapan kurikulum merdeka. Salah satu kegiatannya ialah  Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum Merdeka, kegiatan ini bertujuan untuk penguatan pemahaman konsep dan implementasi kurikulum merdeka, meningkatkan kompetensi guru dan tenaga pendidikan, perancangan program tindak lanjut, dan peningkatan kualitas pendidikan melalui komunitas belajar.

Kurikulum Merdeka merupakan inovasi yang progresif dalam sistem pendidikan Indonesia, karena pada kurikulum ini menempatkan kebutuhan dan potensi siswa sebagai pusat dari proses Pendidikan. “Jadi dapat dikatakan bahwa kurikulum merdeka ini dirancang untuk para peserta didik (Heri Syafril Batubara) agar dapat meningkatkan taraf hidupnya dan juga diharapkan dapat berguna bagi masyarakat.

Kurikulum Merdeka Belajar adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada para peserta didik untuk mengatur dan mengembangkan cara belajar mereka sendiri secara mandiri. Konsep ini digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan merupakan bagian dari program Indonesia Pintar.

 Konsep Dasar Kurikulum Merdeka

Konsep kurikulum bebas mendorong semua siswa untuk berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran mereka sendiri. Dengan demikian, siswa tidak hanya secara pasif mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan pemerintah, tetapi juga diberi kebebasan untuk memilih cara mereka belajar sesuai kebutuhan mereka. Diharapkan konsep ini akan membantu meningkatkan kualitas pendidikan serta menumbuhkan inovasi dan kreativitas di dunia pendidikan Indonesia.

Konsep kurikulum bebas belajar juga menuntut penggunaan teknologi sebagai alat bantu dalam proses belajar, seperti platform pembelajaran online, e-book, dan video belajar. Teknologi juga dapat digunakan sebagai cara untuk mendapatkan lebih banyak sumber daya atau sumber daya, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari buku pelajaran.

“Hal ini memberikan peluang belajar yang sangat luas bagi tenaga pendidik maupun peserta didik yang tertarik dengan penggunaan Teknologi dan dapat mengembangkannya untuk kepentingan proses pembelajaran ataupun dalam kehidupan sehari-hari (Thofan Jihadullah Alatiq)”.

“Apakah kurikulum yang digunakan saat ini sudah bersumber pada latar belakang dan jati diri masyarakat Indonesia?” (Musyawir)

Kurikulum Merdeka dalam pengimplementasiannya didasari oleh konsep-konsep yang matang dan terarah sehingga menjadikan kurikulum ini menjadi sebuah kurikulum yang digunakan pada zaman sekarang tanpa mengabaikan latar belakang masyarakat Indonesia.

“Pada kurikulum merdeka, ada istilah P5 (projek penguatan profil pelajar Pancasila), dimana dalam proyek-proyek inilah siswa siswi akan menghasilkan sebuah karya yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia. P5 ini juga memberikan gambaran tentang karakter dan kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh setiap pelajar Indonesia, seperti religiositas, kemandirian, gotong royong, kebhinekaan global, dan integritas” (Heri Syafril Batubara)

 Bebarapa konsep yang ada pada Kurikulum Merdeka ini ialah:

  1. 1.    Fleksibilitas dalam Pembelajaran:
  • Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada sekolah dan guru untuk merancang dan mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik (Rahmi Yulia, 2023)
  • Pembelajaran difokuskan pada pengembangan kompetensi inti dan bukan hanya pada penyampaian materi pelajaran.

Bukti:

  • Sekolah Penggerak: Program Sekolah Penggerak yang merupakan bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka menunjukkan bahwa sekolah diberikan kebebasan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Ini mencerminkan peningkatan fleksibilitas dalam pendekatan pengajaran.
  • Testimoni Guru dan Siswa: Banyak guru dan siswa melaporkan peningkatan keterlibatan dan motivasi belajar karena materi yang lebih relevan dan metode pengajaran yang lebih interaktif.

 

  1. 2.    Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning):
  • Pembelajaran berfokus pada penyelesaian proyek yang relevan dengan kehidupan nyata, yang dapat membantu peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas.
  • Peserta didik didorong untuk belajar melalui pengalaman langsung dan eksplorasi.

Bukti:

  • Proyek Nyata di Sekolah: Sekolah-sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka telah melaporkan peningkatan dalam penerapan pembelajaran berbasis proyek. Siswa dilibatkan dalam proyek-proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti proyek lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi.
  • Hasil Penelitian: Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui proyek menunjukkan peningkatan dalam keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional.

 

  1. 3.    Diferensiasi Pembelajaran:
  • Kurikulum Merdeka mendorong diferensiasi dalam metode pembelajaran untuk mengakomodasi kebutuhan, minat, dan gaya belajar yang berbeda dari setiap peserta didik.
  • Guru memiliki peran penting dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar masing-masing peserta didik dan menyesuaikan pendekatan pengajaran mereka.

Bukti:

  • Penyesuaian Kurikulum: Kurikulum Merdeka memungkinkan penyesuaian kurikulum berdasarkan kebutuhan individu siswa. Banyak sekolah melaporkan bahwa pendekatan ini membantu siswa yang memiliki kebutuhan khusus atau gaya belajar yang berbeda untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.
  • Studi Kasus: Studi kasus di beberapa sekolah menunjukkan bahwa dengan adanya diferensiasi, siswa yang sebelumnya kesulitan belajar menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam prestasi akademik dan non-akademik.

 

  1. 4.    Penilaian Autentik:
  • Penilaian dalam Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada penilaian proses dan hasil belajar yang nyata dan kontekstual.
  • Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil tes atau ujian, tetapi juga pada portofolio, proyek, dan presentasi.

Bukti:

  • Portofolio dan Proyek: Sekolah-sekolah yang mengadopsi Kurikulum Merdeka menggunakan portofolio dan proyek sebagai bagian dari penilaian. Ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kemampuan dan perkembangan siswa.
  • Feedback Positif: Guru melaporkan bahwa penilaian autentik membantu mereka memahami kemampuan siswa dengan lebih baik dan memberikan umpan balik yang lebih konstruktif.

 

Kurikulum Merdeka mencakup tiga tipe kegiatan pembelajaran (Abdul Fattah Nasution et al., 2023) diantaranya :

  1. 1.   Pembelajaran intrakurikuler yang dilakukan secara terdiferensiasi sehingga peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Hal ini juga memberikan keleluasaan bagi guru untuk memilih perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didiknya.
  2. 2.   Pembelajaran kokurikuler berupa projek penguatan Profil Pelajar Pancasila,  berprinsip pembelajaran interdisipliner yang berorientasi pada pengembangan karakter dan kompetensi umum.
  3. 3.   Pembelajaran ekstrakurikuler dilaksanakan sesuai dengan minat murid dan sumber daya satuan pendidik.

 

MANAJEMEN SATUAN PENDIDIKAN PADA KURIKULUM MERDEKA

Implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan keterlibatan aktif dari berbagai pihak termasuk pemerintah, sekolah, guru, siswa, dan masyarakat. Pemerintah menyediakan panduan dan sumber daya yang dibutuhkan, sementara sekolah dan guru memainkan peran utama dalam menerapkan kurikulum ini sesuai dengan kebutuhan unik masing-masing sekolah.

Manajemen pendidikan adalah proses mengelola dan menata suatu institusi pendidikan dengan fokus pada pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Ini menghasilkan institusi pendidikan yang unggul dan berkualitas tinggi (Zohriah et al., 2023). Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis, relevan, dan berpusat pada peserta didik, sehingga dapat mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk menghadapi tantangan masa depan dengan lebih baik.

Manajemen satuan pendidikan yang baik dalam Kurikulum Merdeka sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas dan adaptif. Manajemen yang baik memastikan bahwa Kurikulum Merdeka dapat dilaksanakan dengan sukses dan memberikan dampak positif bagi siswa dan masyarakat luas, dengan fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, relevansi pembelajaran, pengembangan profesional guru, dan partisipasi komunitas.

Dalam proses berjalannya manajemen Pendidikan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti:

 

  1. 1.    Pengembangan Kurikulum Sekolah

Setiap sekolah diberi kewenangan untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan visi, misi, dan konteks lokal sekolah. Sekolah dapat menyusun kurikulum yang menekankan pada kekhasan daerah, potensi lokal, dan kebutuhan masyarakat sekitar.

  1. 2.    Pelatihan dan Pengembangan Guru

Guru-guru diberi pelatihan dan dukungan agar mampu mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan efektif. Pengembangan profesional guru diarahkan pada peningkatan kompetensi dalam merancang pembelajaran yang kreatif dan inovatif (Rahmi Yulia, 2023)

  1. 3.    Kolaborasi dan Partisipasi

Kurikulum Merdeka mendorong kolaborasi antara sekolah, komunitas, dan dunia usaha dalam proses pembelajaran. Partisipasi aktif orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan juga menjadi salah satu fokus utama.

  1. 4.    Monitoring dan Evaluasi

Pelaksanaan Kurikulum Merdeka di setiap sekolah diawasi dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa tujuan pendidikan tercapai. Evaluasi dilakukan melalui berbagai metode termasuk observasi, penilaian kinerja, dan feedback dari berbagai pemangku kepentingan.

 

Keunggulan Kurikulum Merdeka

Kurikulum merdeka memiliki beberapa keunggulan diantaranya:

  1. Mengembangkan kemampuan dan kreativitas tenaga pendidik maupun peserta didik secara pesat
  2. Mendorong peserta didik untuk bertanggung jawab atas cara belajar mereka sendiri
  3. Mendorong kemampuan peserta didik untuk mencari, memilih, serta menggunakan sumber daya yang tersedia untuk mendukung proses belajar
  4. Mengembangkan konsep pembelajaran sepanjang hayat, di mana peserta didik diharapkan untuk terus belajar dan mengembangkan diri sepanjang hidup mereka
  5. Mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan yang berubah dengan cepat dan semakin kompleks dari tahun ke tahun
  6. Mendorong tenaga pendidik untuk berperan sebagai mentor dan fasilitator dalam proses belajar peserta didik
  7. Mendorong tenaga pendidik untuk berinovasi dalam mengembangkan metode ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa
  8. Meningkatkan penggunaan teknologi sebagai sarana dalam pembelajaran yang dilakukan sehari-hari

 

Keadaan Lapangan Penerapan Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka adalah solusi untuk perubahan dalam sistem pendidikan dengan tujuan mencegah pendidikan di Indonesia tertinggal dari sistem pendidikan di negara lain. Kurikulum Merdeka dapat dianggap memiliki efek positif dan negatif terhadap kualitas pendidikan siswa. Saat ini, Kurikulum Merdeka masih memiliki banyak kekurangan dan salah pengertian. Masih banyak guru yang hanya memberikan tugas tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi sekolah. Akibatnya, banyak siswa tidak termotivasi selama pembelajaran.

Disamping itu peserta didik juga masih tidak tercontrol dalam memanfaatkan fasilitas untuk proses pembelajaran salah satu contohnya dalam penggunaan smartphone masih banyak peserta didik memanfaatkan smartphone ini tidak untuk proses pembelajaran melainkan hampir 90% menggunakan smartphone untuk media sosial ataupun game online. Dalam kasus ini lah menjadikan peserta didik dalam proses pembelajaran terkesan lebih malas dan materi yang disampaikan tidak tertangkap seperti apa yang diharapkan oleh pendidik.

Pemerintah dalam melakukan upaya perubahan di dalam sistem kurikulum merdeka terkesan kurang persiapan karena masih banyak pendidik yang belum memahami konsep dasar apa itu kurikulum merdeka, disamping itu masih bada beberapa sekolah yang belum menjalani kurikulum merdeka belajar dan juga kurikulum merdeka belajar ini masih kurang tepat dalam sekolah di pedesaan di akibatkan fasilitas yang kurang mumpuni dan masih kurangnya pemerataan di daerah yang ada di negara Indonesia.

Tantangan yang ada dalam proses implementasi kurikulum merdeka yaitu

  • Kesiapan guru sebagai pembawa perubahan di kelas,
  • Dukungan sekolah dalam memberikan fasilitas penunjang baik bersifat materil maupun non-materil,
  • Keberagaman siswa dalam suatu kelas.

Dengan adanya tantangan tersebut cara terbaik yang harus kita lakukan saat ini dengan terus bersama-sama mengoptimalkan sisi baik dari kurikulum merdeka, serta berusaha memperbaiki kekurangan yang ada.

Dari uraian kejadian yang ada di lapangan dalam proses pembelajaran menggunakan kurikulum merdeka belajar, maka perlunya satu pengembangan sistem kurikulum yang tepat sasaran. Dari solusi yang telah ditawarkan maka dari itu harapannya sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dan mengembangkan generasi emas untuk sdm yang ada di Indonesia.

Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis, relevan, dan berpusat pada peserta didik, sehingga dapat mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk menghadapi tantangan masa depan dengan lebih baik (Abdul Fattah Nasution et al., 2023). Dengan memberikan fleksibilitas dan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dan guru, kurikulum ini dapat lebih responsif terhadap kebutuhan siswa dan tantangan lokal. Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada kesiapan dan dukungan yang memadai dari semua pemangku kepentingan, termasuk pelatihan guru, penyediaan sumber daya, dan sistem evaluasi yang efektif. Kurikulum Merdeka berpotensi besar untuk menghasilkan generasi yang lebih kompeten, kreatif, dan siap menghadapi masa depan (Syahbana et al., 2024).

 

 Oleh:

Kelompok 1 – Pedagogi 2.1A

(Ade Gustia Putri, Nabila Khairunnisa Riyanto, Mushthafa Qarabati,

Sri Nuranisa Maida, Vivi Yunika)

 

 

 

 

 

 




Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: redaksi.berazam@gmail.com


Komentar Anda
Berita Terkait
 
 


About Us

Berazamcom, merupakan media cyber berkantor pusat di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, Indonesia. Didirikan oleh kaum muda intelek yang memiliki gagasan, pemikiran dan integritas untuk demokrasi, dan pembangunan kualitas sumberdaya manusia. Kata berazam dikonotasikan dengan berniat, berkehendak, berkomitmen dan istiqomah dalam bersikap, berperilaku dan berperbuatan. Satu kata antara hati dengan mulut. Antara mulut dengan perilaku. Selengkapnya



Alamat Perusahaan

Alamat Redaksi

Perkantoran Grand Sudirman
Blok B-10 Pekanbaru Riau, Indonesia
  redaksi.berazam@gmail.com
  0761-3230
  www.berazam.com
Copyright © 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top