Yanto Budiman, Pimpinan berazam.com/Ketua Pro Jurnalismedia Siber (PJS) RiauPers sebagai pilar keempat dalam sistem demokrasi memegang peran yang sangat krusial dalam menjaga keseimbangan kekuasaan dan memberikan ruang bagi rakyat. Untuk bersuara Namun, kadangkala pers juga dihadapkan pada tantangan besar, terutama dalam menghadapi hegemoni kekuasaan yang tiran, kekuasaan yang sewenang-wenang. Di sinilah pentingnya sinergi antara pers dan intelektual sebagai agen perubahan yang kritis dan berani.
Pers memiliki kekuatan untuk mengekspos kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan memberikan informasi yang objektif kepada masyarakat. Namun, dalam konteks hegemoni kekuasaan yang tiran, pers seringkali dihadapi dengan berbagai tekanan, intimidasi, dan pelecehan yang berpotensi mengurangi kemerdekaan pers.
Di sinilah peran penting intelektual dalam sinergi dengan pers. Intelektual memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang luas, serta kritis terhadap berbagai isu yang muncul dalam masyarakat. Mereka juga memiliki kemampuan untuk menganalisis informasi dengan objektif dan memberikan pandangan yang kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tiran.
Dengan kerja sama yang baik antara pers dan intelektual, keduanya dapat saling mendukung dan melengkapi satu sama lain dalam melawan hegemoni kekuasaan yang tiran. Pers dapat menggali informasi dan fakta yang penting, sedangkan intelektual dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam dan analisis yang mendalam terhadap isu-isu yang ada.
Dengan sinergi yang kuat antara pers dan intelektual, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar akan kekuasaan tiran yang berpotensi merugikan rakyat. Masyarakat dapat menjadi lebih kritis, informasi yang akurat dan obyektif dapat disebarkan dengan mudah, dan keadilan dapat ditegakkan secara lebih efektif.
Disaat adanya anomali hukum dan demokrasi dalam transisi kepemimpinan nasional, peran media atau pers justru terjebak dalam elitisme. Mereka tidak lagi memikirkan masa depan negara yang saat ini sedang berada di tepi jurang. Namun lebih cenderung memikirkan kepentingan bisnis semata. Media media besar dikooptasi pemerintah, diseret dan dilibatkan sebagai alat propaganda dan penggiringan opini demi melanggengkan kekuasaan.
Betul kata pakar hukum tata negara Prof Irman Putra Sidin, dalam sebuah diskusi publik ILC Karni Ilyas. Dia mengatakan tiga cabang kekuasaan : eksekutif, legislatif dan yudikatif telah berselingkuh demi kepentingan penguasa. Peran mereka tidak bisa lagi kita harapkan. Namun masih ada harapan terhadap pers sebagai pilar keempat demokrasi. Namun seiring perjalanan waktu, jangan jangan pers juga telah ikut berselingkuh dengan tiga cabang kekuasaan itu.
Kesimpulannya, dalam konteks demokrasi, pers dan intelektual memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kebebasan, keadilan, dan keadaban dalam masyarakat. Sinergi antara keduanya merupakan kunci dalam melawan hegemoni kekuasaan yang tiran dan memastikan keberlangsungan sistem demokrasi yang sehat dan kuat.


