Teks foto : Sumber: screenshoot live youtube Najwa ShihabPekanbaru, Berazam.com : Feri Amsari, inisiator peta kecurangan pemilu, menganggap bahwa pertandingan dalam pemilihan presiden harus dinilai sebagai tidak sah jika dimulai dengan kecurangan. Menurutnya, angka lebih dari 50% dari 140 juta suara berpotensi dimanipulasi, dengan sebaran wilayah yang diduduki oleh orang-orang berkuasa, menciptakan problematika signifikan.
Billy Mambrasar dari tim sukses Prabowo-Gibran menyambut baik film "Dirty Vote" sebagai karya yang cerdas dan berdasarkan fakta. Dia menekankan bahwa pembuktian-pembuktian yang disampaikan dalam film tersebut harus dijalankan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurut Feri yang juga merupakan ahli tata negara, dalam film dirty vote tersebut terdapat implikasi bahwa kecurangan ini sebenarnya sudah direncanakan oleh Jokowi untuk kepentingan Ganjar, tetapi ada perpindahan pemain (perubahan kepentingan) di akhir waktu untuk mendukung Prabowo dan anaknya, Gibran.
Philip Vermonte dari Center for Strategic and International memandang perdebatan seputar kecurangan sebagai sesuatu yang penting untuk didiskusikan. Ia menggunakan analogi permainan bola untuk menjelaskan bahwa dalam konteks politik, set up menuju kemenangan dianggap sebagai strategi yang sah. "Kalau orang main bola, sebelum menggolkan itu ada set up tau-tau bola dimuka gawang terjadi kemelut dimuka gawang pemainnya ganti, jangan-jangan itu bukan curang tapi set up. Kalau set up main bola itu with the game, dioper pendek dari kiri ke kanan, umpan lambung dan sebagainya dia sudah set up, selagi with in the game mungkin menurut saya pendapat temen-temen ahli tata negara itu curang, tapi mungkin dalam konteks pemain politik itu set up menuju kemuka gawang." jelas Philip
Feri menyimpulkan bahwa pengaturan dalam pemilihan presiden mencakup aspek-aspek seperti penentuan wasit, hasil, bahkan calon wakil presiden yang diatur dari awal. Menurutnya, satu-satunya yang memanfaatkan pengaturan tersebut adalah anak presiden. "Ini bukan set up yang namanya sliding tackle atau tandukan zidane ke terazi. Ini adalah permainan peraturan liga seperti di Italia, dan itu bisa terlihat dari berbagai aspek yang kita jelaskan. Baik siapa wasitnya diatur, baik bagaimana hasilnya diatur, itu yang dilihat dalam proses ini. Itu problematikanya, bahkan calon wakil presiden pun diatur sedari awal, ceritanya harapan kita kan begini, ini untuk semua anak muda, tapi faktanya kita lihat pengaturan itu hanya satu orang yang memanfaatkan putusan itu yaitu anak presiden." ungkap Feri.
Debat antara set up dan kecurangan terus menjadi sorotan, memperlihatkan kompleksitas dalam memahami integritas proses pemilihan presiden pada tahun 2024 ini, dikutip dari live youtube narasi Najwa Shihab pada Rabu (14/2/2024).
Laporan: Nurul
Editor : Yanto Budiman


