Selasa, 21 Maret 2023

Breaking News

  • Pemko Pekanbaru Sediakan 30 Titik Pasar Ramadan   ●   
  • Dinilai Tidak Profesional, Penyidik Polres Pelalawan Diadukan ke Propam Polda Riau dan Kapolri   ●   
  • Rizky Bagus Oka Terpilih Aklamasi Jadi Ketum Kadin Pekanbaru   ●   
  • Pemko Pekanbaru Tetapkan PT AAS sebagai Pengelola Pasar Bawah   ●   
  • Sri Mulyani Sebut Transaksi Mencurigakan Rp74 T Libatkan Aparat Hukum   ●   
Analisa Pengamat Ekonomi
BLT Ekstra Tak Bisa Redam Dampak Harga BBM Naik
Selasa 30 Agustus 2022, 11:04 WIB

Jakarta, berazamcom - Pemerintah menambah bantuan sosial (bansos) dan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp24,17 triliun untuk meredam dampak inflasi jika harga BBM pertalite dan solar naik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan bantuan itu diberikan dalam tiga bentuk. Pertama, BLT sebesar Rp150 ribu diberikan kepada 20,65 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) selama empat bulan.

"Jadi dalam hal ini ibu menteri sosial akan memberikannya dua kali, yaitu Rp300 ribu pertama dan Rp300 ribu kedua," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers, Senin (29/8).

Negara menganggarkan dana sebesar Rp12,4 triliun untuk menambah bansos bagi 20,65 juta KPM.

Kedua, BLT untuk pekerja bergaji di bawah Rp3,5 juta per bulan sebesar Rp600 ribu. BLT itu hanya diberikan satu kali kepada 16 juta pekerja.

Pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp9,6 triliun untuk menyalurkan BLT tersebut.

Ketiga, pemerintah memberikan subsidi menggunakan 2 persen dari dana transfer umum, yaitu DAU dan DBH sebesar Rp2,17 triliun untuk transportasi umum, seperti ojek.

Meski sudah mengumumkan tambahan bansos, tetapi besaran kenaikan harga pertalite dan solar subsidi masih menjadi teka-teki sampai sekarang. Pemerintah juga belum memastikan kapan kenaikan harga berlaku.

Dilansir dari CNN Indonesia, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov mengatakan tambahan bansos dan BLT itu tak bisa meredam dampak lonjakan inflasi secara signifikan. Pasalnya, pemerintah hanya memberikan BLT kepada pekerja bergaji di bawah Rp3,5 juta.

"Yang gajinya tipis-tipis mendekati Rp5 juta atau Rp5 juta tidak dapat bansos. Padahal mereka ikut merasakan dampak kenaikan bahan bakar. Jadi memang (seluruh bansos) ini belum cukup memadai bisa menahan dampak inflasi," papar Abra.

Selain itu, BLT kepada pekerja hanya diberikan satu kali. Lalu, tambahan bansos untuk penerima KPM cuma berlangsung empat bulan.

"Apakah Januari, Februari dampak inflasi sudah reda? Harus siapkan tambahan anggaran bansos," terang Abra.

Abra menjelaskan kenaikan harga BBM akan berdampak sangat besar terhadap inflasi. Minimal, inflasi RI tembus 7 persen sampai 8 persen.

Dampak dari lonjakan inflasi akan terasa dalam jangka pendek dan panjang.

Dampak jangka pendek yang langsung dirasakan adalah masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam ketika membeli BBM subsidi. Lalu, biaya transportasi umum juga ikut meningkat dari sebelumnya.

Sementara, jangka panjangnya adalah bisa membuat harga produk semakin mahal. Tak hanya bahan pangan, tapi juga barang lain.

"Artinya inflasi muncul karena kenaikan harga BBM tidak hanya terjadi satu kali, dampaknya ada gelombang inflasi berikutnya," ujar Abra.

Ia mencontohkan ketika harga BBM naik dan inflasi meningkat, BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan. Setelah itu, suku bunga kredit perbankan akan ikut meningkat.

Hal ini berlaku bagi semua kredit, mulai dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan kredit investasi.

"Kalau suku bunga investasi naik akan berdampak ke dunia usaha, sehingga akan ditransmisi ke harga jual barang dan akan terus begitu. Jadi memang ini tidak hanya jangka pendek," kata Abra.

Belum lagi kalau kenaikan harga BBM membuat masyarakat ricuh dan stabilitas politik terganggu. Situasi ini berpotensi merusak iklim investasi di dalam negeri.

"Ada demo, ini akan mempengaruhi keinginan investor dan mempengaruhi iklim investasi," imbuh Abra.

Jadi, intinya, bansos yang diberikan tak cukup untuk meredam seluruh dampak atas kenaikan harga BBM.

Jalan tengahnya, Abra mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan realokasi anggaran dari belanja kementerian/lembaga (k/l) untuk menambah subsidi energi. Sebab, realisasi belanja k/l masih cukup rendah hanya 20 persen-30 persen sampai akhir semester I 2022.

Lalu, pemerintah dapat menambah defisit dalam APBN 2023. Dengan demikian, negara memiliki ruang fiskal lebih besar untuk menambah anggaran subsidi energi.

Saat ini, pemerintah mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp502,4 triliun. Berdasarkan hitungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), butuh tambahan subsidi sebesar Rp198 triliun agar kuota pertalite dan solar cukup sampai akhir tahun.

"Jika setelah realokasi dan tambahan defisit APBN terkumpul Rp100 triliun, masih butuh Rp98 triliun lagi. Nah ini saja yang dibebankan ke konsumen. Tapi jadinya konsumen tidak menanggung 100 persen, potensi kenaikan harga BBM juga tak harus signifikan," jelas Abra.

Namun, jika harga pertalite dan solar bersubsidi benar-benar naik, maka jangan kaget kalau konsumsi masyarakat berkurang signifikan di bawah 5 persen pada kuartal IV 2022.

Jika konsumsi masyarakat berkurang drastis, pertumbuhan ekonomi akan jeblok. Maklum, kontributor terbesar PDB Indonesia masih berasal dari konsumsi rumah tangga.

Situasi ini akan membuat target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,3 persen tak akan terwujud pada 2022.

"Kalau pertumbuhan ekonomi tidak capai target, maka target penerimaan pajak juga akan terpengaruh. Ekonomi turun akan berdampak ke industri dan penerimaan dari pajak penghasilan turun," kata Abra.

Bansos Cukup Asal Harga Pangan Stabil

Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan tambahan bansos yang diberikan pemerintah cukup untuk mempertahankan konsumsi masyarakat jika harga BBM subsidi naik asalkan harga pangan tetap stabil.

"Cukup atau tidaknya bansos itu tergantung dari bagaimana pemerintah menjaga harga pangan terutama di sisa akhir tahun ini," ungkap Yusuf.

Saat ini, harga pangan saja sudah tinggi. Mulai dari cabai hingga telur ayam.

Kalau jumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga bertambah, maka tambahan bansos yang diberikan pemerintah tak cukup meredam dampak inflasi.

"Saya khawatir kalau kenaikan harga BBM berbarengan dengan kenaikan harga pangan. Saat ini baru beberapa komoditas yang naik, tapi kan harga pangan volatile (bergejolak), tidak bisa diproyeksi," ujar Yusuf.

Jika jumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga bertambah maka konsumsi masyarakat otomatis menurun, khususnya kelas menengah ke bawah.

Meski begitu, Yusuf mengatakan dampak penurunan konsumsi masyarakat menengah bawah tak terlalu mempengaruhi total konsumsi rumah tangga secara nasional.

"Penentu konsumsi rumah tangga sekitar 70 persen kelas menengah atas, mereka tak terpengaruh dinamika harga," ucapnya.

Maka itu, kalau keadaan memburuk, jumlah komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga bertambah dan konsumsi masyarakat kelas menengah bawah turun, Yusuf memproyeksi konsumsi rumah tangga RI masih berada di kisaran 4,9 persen sampai 5,1 persen sepanjang 2022.

"Dengan catatan kelas menengah atas bisa tetap spending di sisa akhir tahun," tutur Yusuf.

Menurut dia, konsumsi kelas menengah atas akan terpengaruh jika lonjakan harga tiket pesawat tak bisa diredam oleh pemerintah. Hal itu akan mempengaruhi minat orang menengah untuk bepergian.

Selain itu, lonjakan kasus covid-19 juga akan mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat kelas menengah atas.

"Kalau covid-19 lagi tinggi, mereka (masyarakat menengah atas) menahan konsumsi mereka," jelas Yusuf.




Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: redaksi.berazam@gmail.com


Komentar Anda
Berita Terkait
 
 


About Us

Berazamcom, merupakan media cyber berkantor pusat di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, Indonesia. Didirikan oleh kaum muda intelek yang memiliki gagasan, pemikiran dan integritas untuk demokrasi, dan pembangunan kualitas sumberdaya manusia. Kata berazam dikonotasikan dengan berniat, berkehendak, berkomitmen dan istiqomah dalam bersikap, berperilaku dan berperbuatan. Satu kata antara hati dengan mulut. Antara mulut dengan perilaku. Selengkapnya



Alamat Perusahaan

Alamat Redaksi

Perkantoran Grand Sudirman
Blok B-10 Pekanbaru Riau, Indonesia
  redaksi.berazam@gmail.com
  0761-3230
  www.berazam.com
Copyright © 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top