Goresan Edy Natar Nasution
Jalan Tol: Belajar Tawadhu
Senin 04 April 2022, 12:50 WIB
Hidup bagai berkendara di jalan tol. Saling melaju ingin mendahului dan menjadi orang yang terdepan. Meski ada aturan maksimal kelajuan dan jalur yang harus dipatuhi, masih ada pengendara jalan tol yang tak mematuhi.

HIDUP bagai berkendara di jalan tol. Saling melaju ingin mendahului dan menjadi orang yang terdepan. Meski ada aturan maksimal kelajuan dan jalur yang harus dipatuhi, masih ada pengendara jalan tol yang tak mematuhi.


Ketika pengendara melaju mendahului kendaraan di depan, terasa ada kepuasan diri mampu menjadi yang terdepan. Namun, ketika selesai mendahului satu kendaraan dengan kecepatan maksimal, ternyata masih ada kendaraan lain berada di depannya. Bila emosi dan arogansi dikedepankan, maka hentakan pedal gas akan semakin kandas untuk mampu mendahului pengendara di depan. Namun, ternyata tetap masih ada kendaraan di depan. Demikianlah seterusnya. Ternyata, setiap pengendara tak mampu menjadi yang terdepan di jalan tol.

Namun sebaliknya. Ketika pengedara mengikuti aturan di jalan tol, meski terkadang melambat (karena kemampuan kendaraan), ternyata masih ada kendaraan di belakang. Bahkan dengan kecepatan minimal pun tetap masih ada kendaraan di belakang. Demikian seterusnya. Ternyata, manusia tidak pernah pula berada paling belakang, sebab pasti ada yang dibelakang.

Sungguh, jalan tol ternyata memberi pelajaran bagi setiap diri yang ingin belajar, antara lain :Pertama, keinginan menjadi paling hebat, terdepan, tertinggi, terkaya, dan seterusnya, meski acapkali melanggar aturan

(hukum dan agama), ternyata tak pernah akan diperoleh. Keinginan seperti ini hanya sebatas mimpi dan sia-sia belaka. Sebab, pada realitas kehidupan pasti akan ada yang melebihi di atas diri dan terdepan melebihi dari apa yang dimiliki. Sungguh sifat ingin terdepan merupakan tindakan yang sia-sia. Apatahlagi bila keinginan tersebut diiringi pilihan "politik belah bambu" dengan memijak satu sisi agar terangkat sisi lain. Apalagi bila "pijakan" dengan melanggar aturan, sisi kemanusiaan, dan penuh intrik kezhaliman.

Kedua, meski merasa berkendara sesuai standard (aturan), jangan takut menjadi yang terbelakang. Pasti ada pengendara yang dibelakang. Artinya, meski hidup memiliki keterbatasan, pasti masih ada yang hidup lebih terbatas lagi. Demikian seterusnya.

Ketiga, berkendara di jalan tol ada aturan, baik rambu-rambu jalan, batas kecepatan, jenis kendaraan, dan lajur pilihan yang harus diikuti. Demikian hidup yang harus dilakukan. Ada aturan yang harus ditaati agar semua saling menghargai. Namun, acapkali aturan selama di jalan tol dilanggar. Bila di jalan tol saja aturan dilanggar, bagaimana berkendara di luar jalan tol. Ada pula pengendara yang taat aturan selama di jalan tol, namun begitu keluar dari pintu tol, kebiasaan melanggar aturan kembali terjadi.

Fenomena berkendara di jalan tol memiliki kesamaan dalam pelaksanaan puasa ramadhan, antara lain : Pertama, puasa mengajarkan sifat tawadhu'. Jangan memaksa beribadah dengan keinginan shalat paling rajin, baca Quran paling banyak khatamnya, bersedekah paling besar, dan seterusnya. Sebab, masih ada orang yang melakukan ibadah lebih banyak, namun tak pernah mempublikasikan diri paling

shaleh, namun senantiasa malu pada Allah atas kesalahan yamg pernah dilakukan. Semakin ibadah mampu mewarnai karakter diri, semakin tak ingin diketahui, apatahlagi ingin disebut paling shaleh.

Kedua, jangan merasa rendah diri bila tak mampu mengisi ramadhan karena keterbatasan yang ada. Lakukan ibadah sebatas kemampuan, namun isi dengan kualitas keikhlasan dalam beribadah.

Ketiga, aktivitas ibadah selama ramadhan perlu dipertahankan secara istiqomah pasca ramadhan. Jangan sampai, ibadah selama ramadhan mengalami stagnan, bahkan mundur pada sebelas bulan ke depan. Pendidikan selama ramadhan perlu dipertahankan dan mampu membentuk karakter diri menjadi lebih baik. Jangan sampai, demikian shaleh selama ramadhan, namun kembali salah pasca ramadhan.

Apatahlagi masih tersimpan kesombongan selama ramadhan, bahkan semakin kokoh i diri pasca ramadhan. Padahal, Islam sangat melarang umat bersikap ujub. Hal ini terlihat pada sabda Rasulullah : Jika kalian tidak berdosa, maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi).

Hadis di atas secara tegas larangan umat Islam memiliki sifat ujub, meski sebesar zarrah. Adapun ujub berarti merasakan kelebihan yang ada pada diri tanpa melihat kuasa Allah di dalamnya. Padahal, Allah yang memberikan kelebihan kepadanya untuk disyukuri, bukan disombongkan.
Ujub merupakan salah satu penyakit hati yang menggiring manusia hanya sombong, merendahkan sesama manusia, iri dengki, dan menolak kebenaran (nasehat).

Bila setiap pintu tol ada perhitungan materi atas setiap tujuan yang diinginkan. Perkalian atas jarak tempuh menjadi dasar biaya jalan tol. Namun, puasa bukan pintu tol. Meski ramadhan bulan istimewa (pengampunan dan pahala ibadah yang dilipat-gandakan), namun bukan berarti "mendikte" Allah dengan mengkalkulasi rangkaian ibadah ramadhan dengan perhitungan besarnya pahala yang akan diperoleh. Tidaklah pantas perhitungan atas ibadah dengan Allah. Sebab, sifat yang demikian menunjukkan ketidakikhlasan atas amaliah yang dilakukan. Semua amal berujung "pamrih" mendapatkan pahala yang "membayar" atas dosa yang pernah dilakukan.

Sungguh, puasa dan rangkaian amal selama ramadhan merupakan kebutuhan diri yang malu dengan perbuatan salah yang pernah (atau mungkin) dilakukan. Ketika ramadhan mampu membangun perasaan malu kepada Allah, maka semakin tak ingin menghitung amal, apalagi mempublikasikan amal yang dilakukan selama ramadhan. Lalu, bagaimanakah ibadah puasa kita pada ramadhan 1443 H saat ini ? Hanya diri yang malu pada Allah mampu menjawabnya.

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab


Penulis adalah Wakil Gubernur Riau




Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: redaksi.berazam@gmail.com

About Us

Berazamcom, merupakan media cyber berkantor pusat di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, Indonesia. Didirikan oleh kaum muda intelek yang memiliki gagasan, pemikiran dan integritas untuk demokrasi, dan pembangunan kualitas sumberdaya manusia. Kata berazam dikonotasikan dengan berniat, berkehendak, berkomitmen dan istiqomah dalam bersikap, berperilaku dan berperbuatan. Satu kata antara hati dengan mulut. Antara mulut dengan perilaku. Selengkapnya



Alamat Perusahaan

Alamat Redaksi

Perkantoran Grand Sudirman
Blok B-10 Pekanbaru Riau, Indonesia
  redaksi.berazam@gmail.com
  0761-3230
  www.berazam.com
Copyright © 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top