Selasa, 25 Juni 2019 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
Siknifikansi 'Hubungan Darah' Edy Natar dan Septina Mengerek Elektabilitas Emmalia Natar

Sabtu, 13-04-2019 - 23:30:01 WIB

 
Keterwakilan perempuan di parlemen memotivir dan mendorong Emma ikut berpartisipasi dalam kontestasi politik. Targetnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pada umumnya khususnya pada perempuan.


TERKAIT:
 
  • Siknifikansi 'Hubungan Darah' Edy Natar dan Septina Mengerek Elektabilitas Emmalia Natar
  •  

    Pekanbaru, Berazam- Hj. Emmalia Natar SE MM tidak asing lagi di Riau. Namanya sudah sangat populer meski tidak sepopuler Wakil Gubernur Riau Brigjen TNI Purn H Edy Natar Nasution SIP atau Septina Primawati MM Ketua DPRD Riau yang masih memiliki hubungan darah dengan Emmalia.

    Emmalia lahir di Bengkalis 3 Mei 1967. Ayahnya adalah seorang tokoh Riau yang cukup disegani: H. Natar Nasution (almarhum). Ibu dari tiga orang anak hasil pernikahan nya dengan Andi Agus Akbar, ini tinggal di Jakarta ikut suami yang sehari hari bekerja di salah satu BUMN.

    Dunia akademis dan politik bagi Emma ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Kolaborasi dua perspektif inilah yang membuat Emma cepat matang dalam beradaptasi serta menyikapi berbagai persoalan yang ada di masyarakat.

    Tak jauh beda dengan Abang dan kakak sepupu nya: Edy Natar Nasution dan Septina Primawati MM. Yang telah duluan masuk dalam sistim pemerintahan di tataran daerah. Reputasi dan rekam jejak dua kerabatnya itu sepertinya bakal menular kepada dirinya, seiring dengan pencalonannya sebagai anggota DPR RI pada pemilu tahun ini.

    Bahkan menurut pengamat politik Riau Saiman Pakpahan factor kekerabatan atau hubungan darah Emma dengan Edy Natar dan Septina Primawati, bisa menambah amunisi baru serta mampu meningkatkan popularitas dan elektabilitas Emmalia.

    "Kolaborasi dua tokoh [Edy Natar dan Septina] punya potensi besar untuk membranding sosok Emmalia yang berujung pada peningkatan elektabilitas. Dua potensi itu akan saling mengisi," ujar Saiman.

    Pendapat yang sama dikemukakan Datuk Malano Ketua PORBI provinsi Riau. Menurut dia, Emmalia Natar adalah seorang organisatoris yang cakap dan disiplin bekerja. Emma pernah tercatat sebagai pengurus AMPI dan KNPI tahun 1999 era Herman Abdullah.

    "Beliau sangat kaya pengalaman organisasi tanpa melupakan kodratnya sebagai ibu rumah tangga yang baik. Jadi saya pikir Emma layak dimajukan selangkah dan ditinggikan seranting menjadi anggota DPR RI. Untuk itu saya ajak seluruh anggota Porbi memilihnya pada pemilu tanggal 17 April ini," kata tokoh pemuda yang juga ketua PORBI (Persatuan Olahraga Berburu Babi Hutan Indonesia) provinsi Riau.

    Senior Pemuda Pancasila Riau ini menambahkan, Emmalia Natar bukan orang baru di dunia politik. Dia dua periode dalam kepengurusan DPP Golkar. "Jadi saya optimis dengan modal sosial yang beliau miliki, akan mampu membawa perubahan dalam konstelasi politik di DPR RI jika diberi amanah oleh masyarakat Riau," ujar Datuk Malano.

    Keterwakilan perempuan di parlemen memotivir dan mendorong Emma ikut berpartisipasi dalam kontestasi politik. Targetnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pada umumnya khususnya pada perempuan.

    Menurut dia isu keterwakilan perempuan kurang menjadi perhatian publik, dalam skala nasional. Perhatian publik lebih terpusat pada calon presiden, dibandingkan calon legislatif. Karena Pemilu 2019, merupakan pemilu pertama yang diselenggarakan secara serentak, menggabungkan pemilihan anggota legislatif dengan pemilihan presiden.

    "Idealnya, Pemilu 2019 merupakan peluang besar meningkatkan keterwakilan di parlemen. Terlebih melihat fakta, semua partai politik menempatkan lebih dari 30% perempuan dalam daftar Calon anggota legislatifnya, faktanya seluruh mata tertuju pada paslon pilpres," kata Emma.

    Meskipun demikian, pemilu dengan sistim proporsional terbuka saat ini diharapkan mampu mengalihkan perhatian publik agar tidak hanya terfokus pada pilpres saja. Sebab dengan pola ini, para caleg dipaksa turun ke konstituen bertemu langsung dengan masyarakat.

    "Disinilah kesempatan kita untuk mengedukasi masyarakat untuk tidak hanya fokus pada pilpres saja. Tapi pemilu legislatif juga sangat penting untuk memilih wakil mereka nanti di parlemen agar tercipta check and balance dalam sistim pemerintahan kita yang terdiri dari eksekutif, legislatif dan yudikatif atau yang lazim disebut Trias politika," jelas Emmalia Natar.

    Sebagai calon anggota DPR RI yang jika terpilih nanti, Emma bertekad untuk tidak mengecewakan masyarakat Riau sebagai daerah yang mengantarkan nya ke Senayan.

    Melalui partai Golkar sebagai salah satu Partai tertua di Indonesia, Emma tidak sudi disebut sebagai 'macan ompong' yang beberapa tahun ini menjadi bulan bulanan masyarakat Riau karena setelah duduk di Senayan tidak mampu mengartikulasikan serta mengimplementasikan harapan maupun aspirasi masyarakat Riau yang direpresentasikan oleh Pemerintah Provinsi Riau.

    "Inilah yang memicu dan menyemangati saya jika kelak diberi amanah oleh masyarakat Riau khususnya yang tersebar di daerah pemilihan Riau 1. Sebab bagi saya politik itu bukan tentang kekuasaan dan uang tapi lebih dari itu yakni tentang kemanusiaan dan kesejahteraan masyarakat," ungkap Emmalia Natar.

    bazm2



     
    Berita Lainnya :
  • Siknifikansi 'Hubungan Darah' Edy Natar dan Septina Mengerek Elektabilitas Emmalia Natar
  •  

    Komentar Anda :