Sabtu, 20 April 2019 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
Efek Dukungan Gatot dan Dahlan Kerek Elektabilitas Prabowo

Minggu, 14-04-2019 - 12:58:05 WIB

 
Dukungan Gatot dan Dahlan untuk Prabowo-Sandiaga dinilai akan memberikan efek elektoral meski tidak cukup signifikan.

TERKAIT:
 
  • Efek Dukungan Gatot dan Dahlan Kerek Elektabilitas Prabowo
  •  

    Jakarta, Berazam-Capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat dukungan dari sejumlah tokoh jelang Pilpres 2019 yang akan digelar pada 17 April mendatang. Usai Abdus Somad yang secara terang-terangan mendukung pasangan nomor urut 02, Dahlan Iskan dan Gatot Nurmantyo juga melakukan hal yang sama.

    Gatot adalah mantan Panglima TNI di era pemerintahan Jokowi-JK, sementara Dahlan Iskan merupakan mantan Menteri BUMN era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono. Dahlan bahkan pada Pilpres 2014 lalu termasuk tokoh yang mendukung pasangan Jokowi-JK. 

    Dukungan dua tokoh tersebut dideklarasikan saat kampanye akbar Prabowo-Sandiaga di Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat (12/4/2019). Dahlan dan Gatot bahkan masuk dalam daftar nama-nama calon menteri yang akan dipertimbangkan Prabowo bila terpilih nanti.

    Direktur Relawan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Ferry Juliantono menilai dukungan dari sejumlah tokoh, mulai dari Abdus Somad, Gatot Nurmatyo, hingga Dahlan Islan sebagai amunisi baru jelang pemungutan suara pada Rabu mendatang.

    “Beberapa hari belakangan ini ada gelombang pembalikan dan migrasi dukungan, makin banyak pengusaha dan tokoh-tokoh yang mendukung kami terang-terangan dan ini enggak kebendung. Itu lah kekuatan tren,” kata Ferry saat menghadiri rilis survei Poltracking, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4/2019).

    Wakil Ketua Umum Gerindra ini optimistis, dukungan dari para tokoh masyarakat tersebut bisa mengubah hasil survei yang telah dirilis sejumlah lembaga, termasuk Poltracking. Ferry bahkan menyebut hasil survei bisa saja berubah dan mencerminkan fakta Prabowo sebagai pemenang.

    Berdasarkan hasil survei Poltracking yang dilakukan pada periode 1-8 April 2019, pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul daripada paslon nomor urut 02. Dalam survei terhadap 2.000 responden yang merupakan pemilih dengan margin error2,2 persen itu, elektabilitas Jokowi berada di angka 53,3 persen. Sementara Prabowo-Sandiaga memperoleh 39,7 persen.

    Dari hasil survei itu, setidaknya 7 persen responden menyatakan belum tahu atau belum menjawab. Namun, begitu suara 7 persen didistribusi, pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul meski swing voters mengarah ke Prabowo, yaitu 84,2 persen dan Jokowi 15,8 persen.

    Jika dimasukkan juga dengan margin error 2,2 persen, maka perkiraan perolehan paslon 01 diangka 52,2 persen sampai dengan 56,7 persen. Sementara suara 02 di angka 43,3 persen sampai dengan 47,7 persen. 

    Apabila mengacu pada nilai tanpa menghitung margin error, maka jumlah suara Jokowi-Maruf diprediksi 54,5 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga 45,5 persen.

    “Kalau Poltracking lebih mundur lagi rilis hasilnya, saya rasa sih hasilnya sudah jelas bahwa Pak Prabowo-Sandi sudah unggul,” kata Ferry.

    Sebaliknya, Juru Kampanye Nasional TKN Jokowi-Maruf Amin, Maruarar Sirait tidak terlalu menyoalkan masalah dukungan Dahlan dan Gatot tersebut. Meski tidak mengomentari potensi hilangnya suara paslon 01, tapi ia mengatakan TKN menghormati segala sikap politik tokoh publik.

    “Kami menghormati, kita menghormati. Menghormati pilihan-pilihan yang ada,” kata Ara, sapaan akrab Maruarar, saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

    Politikus PDIP itu berdalih, banyak tokoh masyarakat sudah mendukung Jokowi. Di level ABRI dan TNI, misalnya, kata dia, ada Menkopolhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, hingga mantan Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono.

    Ara optimistis, masyarakat akan tetap mendukung Jokowi untuk periode kedua. Hal ini, kata Ara, diperkuat dengan kampanye nasional di GBK, Jakarta, Sabtu (13/4/2019) yang dipenuhi rakyat. Menurut dia, itu menandakan publik masih mendukung Jokowi. 

    Oleh sebab itu, Ara tidak mempersoalkan sikap politik para tokoh yang berbeda dalam Pilpres 2019 ini. 

    “Berpolitik itu, kan, adalah memperjuangkan apa yang kita yakini benar, karena kami yakin betul bahwa Pak Jokowi itu yang terbaik buat Indonesia, walau dia sudah banyak diserang isu hoaxdan ujaran kebencian, tapi secara fundamental rakyat Indonesia percaya sama dia, dia bersih, dia merakyat, dia kerja nyata. Itu kok realitanya,” kata Maruarar. 

    Maruarar menambahkan “Kita lihat saja nanti. Kami yakin 4 hari lagi, rakyat Indonesia mayoritas percaya dengan Jokowi yang akan menjadi presiden,” kata dia. 

    Belum Bisa Diukur

    Direktur Eksekutif Poltracking Institute Hanta Yudha menyebut dukungan Dahlan dan Gatot tentu berdampak bagi elektabilitas pasangan calon Prabowo-Sandiaga. Namun, Hanta mengatakan belum bisa memprediksi seberapa besar dampak dukungan kedua tokoh tersebut.

    “Kalau ditanya apakah mungkin ada efek, menurut saya mungkin ada, tapi sebesar apa? Tentu harus diukur dengan survei, dan surveinya tidak memungkinkan lagi untuk mengukur itu,” kata Hanta usai rilis survei Poltracking, di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (13/4/2019). 

    Hanta menilai dukungan tokoh publik terhadap salah satu paslon memang bisa menjadi salah satu faktor pengerek suara. Akan tetapi, dukungan tokoh tidak akan berpengaruh banyak bila hanya menarik undecided voters. 

    Menurut Hanta, timses masing-masing calon harus bisa membawa pilihan pemilih lawan menjadi pemilihnya. Apalagi, kata Hanta, berdasarkan hasil survei Poltracking Institute per 1-8 April 2019, kemantapan pilihan pemilih kedua paslon cukup tinggi.

    Dari segi kemantapan pemilih, kata Hanta, kedua paslon sudah sangat mantap. Dari kubu 01, kemantapan pemilih Jokowi-Maruf berada di angka 74,6 persen. Pemilih yang sangat kuat berada di 13,6 persen. Sedangkan kemantapan pemilih memilih paslon Prabowo-Sandiaga di angka 61,4 persen sementara pemilih kuat 21,5 persen.

    “Yang bisa mengubah konstelasi itu kalau bisa menarik ceruk lawannya. Pertanyaannya adalah apakah langkah-langkah politik di 10 hari terakhir ini berhasil memindahkan pilihan, bukan mengambil undecided? Kalau berhasil mengambil pilihan, maka bisa mengubah grafik tadi,” kata Hanta. 

    Sumber: tirto.id



     
    Berita Lainnya :
  • Efek Dukungan Gatot dan Dahlan Kerek Elektabilitas Prabowo
  •  

    Komentar Anda :