Rabu, 23 Oktober 2019 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
Wiro Sableng 212: Laga Cadas, Efeknya pun Bikin Puas

Minggu, 02-09-2018 - 01:00:24 WIB

 
CGI di cuplikan trailer dihujat “kasar” oleh warganet. Penayangan di bioskop menghapus kritik itu: laga yang tersaji bukan yang sekelas “sinetron naga terbang”.

TERKAIT:
 
  • Wiro Sableng 212: Laga Cadas, Efeknya pun Bikin Puas
  •  

    Berazam-Awalnya adalah asal-usul sang pahlawan itu sendiri. Pada suatu malam, sebuah tragedi menyergap kediaman Ranaweleng (Marcell Siahaan), Suci (Happy Salma), dan anak semata wayang mereka, Wira Saksana.

    Di hadapan Wira kecil, Ranaweleng dan Suci dibunuh secara kejam oleh Mahesa Birawa (Yayan Ruhian). Mahesa menyimpan dendam akibat saat muda cintanya ditolak oleh Suci. Saat Wira kecil dilempar anak buahnya ke rumah yang terbakar, sekelebat bayangan terbang dan menyelamatkannya.

    Bayangan itu tak lain adalah Sinto Gendeng (Ruth Marini). Mahesa muda pernah berguru padanya namun melakukan pengkhianatan akibat merasa diberikan janji palsu. Wira adalah harapan kedua Sinto, yang ia bawa ke Gunung Gede untuk diasuh sekaligus dijadikan murid baru.

    Pendidikan untuk Wira tidak berhenti pada tataran teknik berkelahi beserta jurus-jurusnya, melainkan juga soal filosofi hidup. Di usia 17 tahun, saat ilmu Sinto telah diajarkan semuanya, Wira berganti nama menjadi Wiro Sableng (Vino G. Bastian). Maklum, gurunya saja gendeng.

    Wiro diwariskan dua hal penting lain. Pertama, simbol angka 212 di dada yang mengandung nilai ketuhanan. Kedua, Kapak Maut Naga Geni sebagai senjata andalan yang dipesan Sinto untuk dipakai saat Wiro menghadapi pertarungan hidup dan mati. Dalam pertarungan kecil, lebih baik sarungkan saja.

    Wiro kemudian diutus untuk menjalani sebuah misi istimewa: membawa pulang Mahesa ke Gunung Gede. Setelah mengenakan baju dan ikat kepala putih nan ikonik itu, ia pamit dan memulai petualangan pertamanya.

    Legenda Abadi

    Vino boleh dibilang sukses memerankan karakter Wiro yang kocak melalui tingkah maupun dialog. Beban di pundak telah ia lepas mengingat peran itu punya makna mendalam. Ayahnya, Bastian Tito, tak lain adalah penulis serial novel Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

    Buku silat Wiro Sableng memegang rekor penerbitan terlama dan terpanjang di Indonesia. Total ada 185 judul yang diterbitkan selama rentang waktu 39 tahun, dari 1967 hingga 2006. Pendekar Wiro telah menjadi legenda Indonesia yang hingga kini punya basis penggemar yang kuat.

    Popularitas itu terbentang terutama sejak diadaptasi menjadi sinetron pada 1995 dengan Herning “Ken Ken” Sukendro sebagai pemeran Wiro. Sebenarnya ada aktor lain yakni Abhie Cancer, namun Ken Ken tetap menjadi pemeran paling dikenal khalayak.

    Kehadiran Wiro Sableng di layar lebar adalah bukti bahwa ikon dan legenda Wiro Sableng masih membawa nostalgia yang kuat, terutama bagi penonton yang dulu menikmati serial buku maupun televisi.

    Film ini juga berusaha menjadi jembatan antar generasi. Wiro beserta petualangannya ingin dikenalkan ke generasi muda. Upayanya tidak tanggung-tanggung sehingga terciptalah kolaborasi rumah produksi 20th Century Fox dan LifeLike Pictures.

    Ongkos besar tidak disia-siakan oleh sutradara Angga Dwimas Sasongko. Wiro Sableng 212 memukau dari segi sinematografi. Set lokasi dibangun serius. Kostum dibuat dalam warna dan gaya yang unik. Tata rias makin menegaskan sisi komikal para tokoh.

    Musik latar penting dalam film laga dan Aria Prayogi menggarapnya dengan baik. Ia punya rekam jejak kesuksesan lain di film-film laga bermutu seperti The Raid 1&2 dan Merantau. Di Wiro Sableng 212 ia kembali menyuguhkan musik latar bergenre rock yang membuat pertarungan Wiro dan para musuh lebih menggigit.

    Wiro Sableng 212 mengubah ekspektasi sebagian orang yang dulu sempat sinis usai trailer film keluar, baik yang diunggah melalui kanal Youtube hingga yang dipublikasikan melalui akun medsos Angga.

    Mereka bilang efek Computer Graphic Image alias CGI-nya terlalu kasar sehingga adegan-adegan laganya kurang terasa realistis. Kritikan itu didasarkan pada fakta bahwa film dibuat oleh rumah produksi sekelas 20th Century Fox, sehingga standarnya pun semestinya tinggi.

    Ada satu adegan ketika Wiro berkelahi dengan Santiko, pendekar tambun berjuluk Bujang Gila Tapak Sakti, di atas sebuah pohon di tepi jurang. Lagi-lagi CGI-nya dinilai kasar.

    Angga menjawab keraguan-keraguan itu melalui komentar balasan. Ia berkata jika film kesembilannya itu memang mengandung banyak elemen CGI. Namun apa yang tergambar di media sosial, seperti di akun Instagram-nya, formatnya telah berubah alias tidak sesuai aslinya. Intinya, Angga ingin mereka menilai usai menonton di bioskop.

    Angga benar. Keraguan-keraguan itu sirna. CGI yang ia suguhkan memang cukup memuaskan. Kolom komentar trailer yang diunggah di Youtube mulai dibanjiri oleh komentar pujian sejak penayangan hari pertama pada Kamis (30/8/2018). CGI-nya justru halus, kata salah satunya.

    Wiro Sableng 212 memang pada dasarnya film laga, bukan film biopik, sehingga aksi pertarungan antara wakil yang baik dan yang jahat adalah jualan utamanya. Keseriusan itu juga terlihat dari diajaknya para aktor laga yang sudah matang seperti Yayan Ruhian atau Cecep Arif Rahman.

    Penonton kekinian adalah produk dari perkembangan teknologi yang pesat sehingga punya standar tinggi perihal rincian adegan kelahi. Mereka makin kritis. Seorang sineas akan dihujat habis-habisan jika kualitas CGI dalam filmnya masih sekelas “sinetron naga terbang”.

    Kerja sama dengan 20th Century Fox menghindarkan Angga, kru, dan para pemeran dari risiko tersebut. Hasilnya adalah win-win solution: kualitas film bisa dipertahankan, para penonton pun senang.

    Wiro Sableng 212 adalah film Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang dihasilkan dari pendanaan 20th Century Fox. Jika sukses, Wiro Sableng 212 bisa membuka jalan yang lebih lebar bagi sineas lokal lain untuk mencicipi proyek film bareng rumah produksi ternama.

    Angga sendiri menegaskan bahwa petualangan panjang Wiro di buku silat terlalu epik untuk dipadatkan ke dalam satu film. Ia sedang mempersiapkan dua film lanjutan, yang otomatis menjadikan rangkaian aksi Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 sebagai sebuah trilogi.*

    sumber:tirto.id





     
    Berita Lainnya :
  • Wiro Sableng 212: Laga Cadas, Efeknya pun Bikin Puas
  •  

    Komentar Anda :