Rabu, 20 Juni 2018 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
Mengorek yang Terjadi di Pernikahan Bawah Umur ''Zaman Now''

Sabtu, 10-03-2018 - 11:54:03 WIB

 
Persoalan pernikahan bawah umur tak hanya masalah pencegahan, tapi juga ihwal kepedulian masyarakat menjaga pernikahan yang sudah terjad

TERKAIT:
 
  • Mengorek yang Terjadi di Pernikahan Bawah Umur ''Zaman Now''
  •  




    Berazam- Dunia maya sering dihebohkan dengan informasi dan foto-foto pernikahan bawah umur atau anak. Respons masyarakat umumnya beragam yang memunculkan pro dan kontra. Pernikahan bawah umur memang masih jadi persoalan yang masih terjadi di masyarakat Indonesia.

    Anggapan pernikahan bawah umur terjadi karena desakan ekonomi atau dorongan orang tua tak sepenuhnya benar. Ada banyak faktor lain yang menentukan pernikahan bawah umur bisa terjadi.

    Dalam diskusi bertajuk “Child, Early, and Forced Marriages in Indonesia: Impact and Counter Measures” yang digelar Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia dan Leiden University, Jumat (9/3/2018), antropolog Mies Grijns mengatakan sekarang pernikahan anak bawah umur cenderung dilatarbelakangi alasan suka sama suka.

    Mies mengatakan pernikahan bawah umur juga terjadi karena keinginan menghindari kekerasan rumah tangga yang melibatkan orangtua. Ada pula yang melakukannya karena ditelantarkan oleh orangtua atau ditinggal ke luar kota/negeri. Agar pemenuhan kebutuhan hidup mencakup materi atau sosial, seseorang bisa melakukan pernikahan di bawah umur. 

    Argumentasi tersebut menurut Mies berasal dari risetnya di kawasan Sukabumi sejak 2013 hingga 2014. Kandidat doktor di Van Vollenhoven Institute, Leiden University ini mengatakan pernikahan anak bawah umur tak cuma dilakukan masyarakat pedesaan tapi juga merambah ke masyarakat perkotaan.

    Mies juga melansir data Survei Sosial Ekonomi (Susesnas) pada 2013, ada 13,6% perempuan usia 20 tahun sampai 24 tahun saat disurvei telah menikah di bawah usia 18 tahun dan masih mempertahankan rumah tangganya. Namun, bila digabungkan dengan yang sudah bercerai, pernikahan perempuan di bawah usia 18 tahun mencapai 24,17%. Jumlah ini memang cukup tinggi, apalagi bila menilik data UNICEF 2017 yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peringkat ketujuh dalam hal pernikahan bawah umur di dunia.

    Mies mengatakan persoalan pernikahan bawah umur sebaiknya tidak saja diarahkan ke upaya pencegahan, tapi juga kepedulian mendukung sang anak saat menghadapi persoalan. 

    “Proteksi anak sangat penting, tetapi perlindungan anak juga harus diteruskan kepada mereka yang sudah menikah. Anak-anak usia belasan tahun yang sudah menikah sangat butuh empowerment. Mereka harus dididik, didukung, dan dibantu,” kata Mies.

    Bagi Wakil Dekan Fisip UI Dody Prayogo studi-studi tentang pernikahan bawah umur tidak lagi berfokus pada pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Ia memandang studi tentang pernikahan bawah umur seharusnya mengarah ke upaya pencegahan. Persoalan pernikahan di bawah umur, bukanlah masalah masa kini, tapi sudah terjadi sejak lama.

    Wacana penolakan perkawinan anak sudah diangkat sejak Kongres Perempuan I pada 1928. Lebih dari 89 tahun setelahnya, praktik-praktik perkawinan anak masih sering terjadi di berbagai tempat di Indonesia, meski kini terdapat pola baru.

    Pernikahan Bawah Umur Tak Berarti Paksaan

    Pernikahan bawah umur sering diasosiasikan dengan masalah ekonomi dan paksaan dari orangtua si anak. Namun, kenyataannya model kejadi pernikahan bawah umur ada faktor suka sama suka yang melatarbelakangi pernikahan dini.

    Pernikahan bawah umur juga bisa datang dari inisiatif anak. Ini misalnya dibuktikan dari penelitian Ida Ruwaida Noor dari Pusat Kajian Gender dan Seksualitas (Genseks) UI. Ida mewawancara perempuan berinisial Mh (19 tahun) asal Desa Lembar Selatan, Lombok Barat. Menurut Ida, Mh menikah saat kelas 2 SMA karena inisitif sendiri lantaran takut menghadapi ujian.

    Ida yang berasal dari Sumbawa mengatakan sejumlah masyarakat Lombok juga masih mempraktikkan “kawin culik” yakni orang tua menikahkan anak perempuan yang kedapatan pergi hingga larut malam bersama pasangannya. Namun dalam beberapa kasus ceritanya bisa jadi berbeda. 

    Ida menceritakan sekali waktu ada anak perempuan yang dibawa lari pasangannya. Ayah si anak itu mencari dan berhasil menjemput anaknya. Lantaran si anak merupakan satu-satunya anggota keluarga yang bersekolah hingga SMA, sang ayah enggan praktikkan kawin culik. Namun si anak justru ingin agar kawin culik dilakukan terhadapnya. Dalam kasus ini motivasi rasa suka sama suka menjadi pemicunya.

    Faktor agama dan budaya juga mendorong terjadinya pernikahan bawah umur. Dalih yang biasanya digunakan adalah tidak ingin sang anak hamil di luar nikah. Faktor lainnya soal motivasi ekonomi dari orangtua si anak.

    Ida mengatakan ia pernah mewawancara seorang ibu yang diminta tokoh agama menikahkan anaknya yang masih sekolah kelas 3 Aliyah setingkat SMA. Sang ibu sempat diiming-imingi pergi haji. Namun, meski pernikahan itu terjadi setelah si anak lulus Aliyah, janji pergi haji belum juga terealisasi. Padahal usia pernikahan sudah menginjak tiga tahun.

    Di luar persoalan faktor penyebab pernikahan di bawah umur, ada aspek yang paling penting yaitu menjaga pernikahan dini yang sudah terjadi. Bahkan, yang tak kalah penting adalah melindungi seorang yang menikah di bawah umur tapi harus menelan kenyataan mengalami perceraian.

    Ida mengatakan sejumlah remaja di Sukabumi yang pernah bercerai di bawah usia 18 tahun biasanya memilih bermigrasi ke kota lain. Akibatnya, anak-anak yang lahir dari pernikahan bawah umur mesti dititipkan kepada kakek-nenek bocah tersebut di kampung. Dalam beberapa kasus, perceraian pada pernikahan di bawah umur juga justru memberikan kebahagiaan bagi mereka yang menikah di bawah umur terutama dari sisi perempuan.

    My, narasumber Ida lainnya yang berasal dari Rembang justru mengaku bahagia dan bebas setelah bercerai. Di lain sisi, En (17 tahun) menyatakan ia merasa malu sesudah bercerai dan tidak mau keluar rumah.

    Pernikahan di bawah umur secara hukum positif memang melanggar. Upaya negara mencegah pernikahan bawah umur sudah diatur dalam UU Perlindungan Anak. Namun menurut Ida penerapannya tak cukup efektif. Kebanyakan anak punya justru dipaksa menikah karena porsi kewajiban mereka mematuhi orang tua lebih besar ketimbang hak untuk menentukan sikap yang dilindungi UU.

    Asisten Dekan bidang Riset, Publikasi ilmiah, dan Pengabdian Masyarakat di FISIP UI ini merekomendasikan sejumlah menyelesaikan masalah pernikahan bawah umur. Ia menyarankan perhatian terhadap dampak pernikahan bawah umur mesti lebih digiatkan. Negara juga harus berperan aktif meningkatkan batas usia minimal pernikahan agar tak menjadi persoalan sosial. *

    Sumber: tirto.id








     
    Berita Lainnya :
  • Mengorek yang Terjadi di Pernikahan Bawah Umur ''Zaman Now''
  •  

    Komentar Anda :

     
     
     
     
    Pilihan Redaksi
    Hasil Polandia vs Senegal di Piala Dunia 2018 Skor Akhir 1-2
    Untuk Riau Lebih Baik, Fachry Yasin Ajak Warga Minang di Riau Pilih Syamsuar-Edy
    Dua Gol Romelu Lukaku Bawa Belgia Menang Atas Panama
    Mendulang Kesuksesan Lewat Culut Stick
    Prediksi: Swedia vs Korsel Seri, Belgia dan Inggris Menang
     
     
     
    Galeri Foto - Advertorial - Pariwara
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2017 berazam, all rights reserved