Rabu, 19 09 2018 Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan - Indeks Berita
 
Begini Kisah Kain Tenun Siak dan Sejarahnya

Rabu, 07-03-2018 - 13:55:57 WIB

 



TERKAIT:
 
  • Begini Kisah Kain Tenun Siak dan Sejarahnya
  •  

    Siak, berazamcom - Di tangan Wawa Endi, penenun di Rumah Tenun Kampung Bandar, Pekanbaru, Riau, alat tenun bukan mesin sepanjang 160 sentimeter itu bergemeretak dari pagi sampai sore. Dari rutinitas itulah lahir kain tenun Siak yang kondang.

    Rot penggulung benang dan kain, yang letaknya berseberangan, berputar ganti-gantian. Rot itu berfungsi merentangkan benang-benang sepanjang 2 meter. Bunyinya seperti beras yang diayak.  Suaranya itu memenuhi rumah panggung, yang berdiri menyempil di belakang Pelabuhan Bunga Tanjung, pelabuhan rakyat yang menghubungkan Kota Pekanbaru dengan Selat Panjang.

    Jari Wawa menyusupkan benang di atas lembaran kain tenun. Ia sedang membentuk beragam motif bunga cengkeh. Motif cengkeh adalah simbol kekayaan masyarakat Melayu. Motif itu terbikin dari benang emas yang diimpor dari Cina. Warna emas berperan memperkuat kesan cerah pada selembar kain tenun Siak. Maklum, tenun kebesaran orang-orang Melayu ini memiliki ciri warna-warna berani.

    Dulunya, tenun Siak hanya terdiri atas warna hijau, kuning, dan merah. Namun dalam perkembangannya beragam inovasi muncul. Penenun mendobrak aturan. Warna tenun Siak tak lagi seragam, tapi beragam, semisal ungu, biru, dan rona-rona cerah lain.

    Selembar kain tenun terdiri atas 3.486 helai benang. Waktu pengerjaannya sampai seminggu. “Ini sudah hari ketiga,” kata Wawa saat ditemui beberapa waktu lalu di Rumah Tenun Kampung Bandar, Pekanbaru, Riau.

    Kain yang sedang digarap Wawa adalah pesanan seorang taipan sekaligus pejabat kelas teras di Pekanbaru. Coraknya kaya akan bunga cengkeh dan kalong. Kalong memiliki filosofi sifat berwibawa dan bertanggung jawab. Artinya, representasi seorang pemimpin atau raja.

    Seturut dengan budayanya, kain tenun Siak merupakan simbol prestisius bagi si pemakai. Kain ini mulanya hanya dipakai di lingkungan kerajaan Siak Sri Indrapura. Kerajaan itu berlokasi di tepi Sungai Siak, 102 kilometer dari Kota Pekanbaru.

    Penggunanya pun orang-orang kalangan bangsawan atau keturunan darah biru. Tak ayal, dari segi motif, tenun Siak mengangkat corak-corak yang mengandung nilai-nilai sakral, loyalitas, dan pengabdian, yang merupakan representasi seorang pemimpin.

    Tenun pesanan taipan ini tak cuma digarap satu tangan. Di rumah pembuatan tenun tradisional khas Melayu yang diperkirakan dibangun pada 1887 itu, Wawa dibantu 18 perempuan lain. Mereka terorganisasi dalam komunitas perempuan penenun Kampung Bandar.

    Mereka, yang umumnya merupakan keturunan orang-orang Siak, menganggap kegiatan menenun adalah aktivitas warisan para perempuan kerajaan.

    Tenun berkembang di Kerajaan Siak Sri Indrapura saat Tengku Said Ali, yang bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi, bertakhta. Kain tenun ini dikenalkan seorang perajin dari Kerajaan Trengganu, Malaysia.

    Pada masa itu, hubungan kenegaraan kesultanan antara Siak dan negeri-negeri Melayu di semenanjung sangat erat. Karena itu, terjadi akulturasi seni dan budaya yang melahirkan beragam produk kultural. Salah satunya tenun. Kain itu dibuat perempuan-perempuan keturunan kerajaan untuk dipakai kalangan bangsawan.

    Dari waktu ke waktu, aturan menenun buat perempuan berdarah bangsawan berhasil menembus tembok-tembok kerajaan. Ilmu menenun akhirnya merambah ke masyarakat awam. Perempuan dari keluarga biasa diajari menyungkit kain warisan kerajaan.

    Pelan-pelan, budaya menenun untuk penduduk Siak bukan cuma milik istana. Produk tenun Siak juga tak cuma dipakai kaum bangsawan untuk rangkaian upacara atau seremoni tertentu. Seperti batik, tenun Siak meluas fungsinya menjadi kain yang digunakan untuk beragam acara. Penduduk biasa pun mulai membuka bisnis tenun di sepanjang Sungai Siak.

    Budaya menenun kain merembet sampai Pekanbaru. “Bahkan sekarang membuka usaha tenun Siak di Pekanbaru lebih menguntungkan karena sasarannya pasti,” tutur Wawa dikutip tempo.co.

    Meski berinovasi, tak ada yang berubah dari nilai selembar tenun. Apalagi perihal motif. Penenun tetap mempertahankan corak sesuai dengan awal kemunculannya. Sterilisasi flora, fauna, dan alam sekitar terjaga utuh di lembaran kain berharga mulai Rp 300-an ribu hingga Rp 1,6 juta itu.*bazm3




     
    Berita Lainnya :
  • Begini Kisah Kain Tenun Siak dan Sejarahnya
  •  

    Komentar Anda :

     
     
     
     
    Pilihan Redaksi
    Menakar Peluang Hasrul Menuju Senayan, Fauzi Kadir: Dia Punya Leadership dan Manajerial yang Baik
    Berbagai Element Masyarakat Akan Mengirimkan Surat Penolakan Agenda GP Ansor
    Berbagai Element Masyarakat Akan Mengirimkan Surat Penolakan Agenda GP Ansor
    Ketua GP Ansor Riau Diusir Masyarakat Dari LAMR
    Darmawi : Kami Siap Bersebrangan Dengan GP Ansor
     
     
     
    Galeri Foto - Advertorial - Pariwara
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2017 berazam, all rights reserved